Pemimpin Langit
Sungguh, keberadaan pemimpin bagi satu kelompok masyarakat atau bangsa sangatlah penting. Sebab, merekalah yang memiliki kewenangan memutuskan perkara, menjamin kesejahteraan rakyat hingga mewujudkan keadilan. Seorang pemimpin tentu mereka yang lembut hati kepada rakyatnya,peka terhadap setiap kebutuhan rakyat individu per individu. Dan itu hanya di dapat jika seorang pemimpin menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.
Sebab jelas hanya Islam yang berasal dari Wahyu Allah SWT. Pencipta langit dan bumi, manusia dan seluruh alam semesta. Islam memiliki tuntunan bagi seseorang menjadi pemimpin dan bagaimana rakyat seharusnya mengupayakan pemimpin itu hadir. Selain itu yang utama, Islam tidak sekadar menetapkan syarat seseorang layak menjadi pemimpin hanya karena memiliki tujuh syarat in’iqad (sah) seperti laki-laki, muslim, berakal, baligh, merdeka, adil dan kafaah(mampu) tetapi sekaligus memberikan contoh bagaimana seorang pemimpin dalam Islam bersikap dan bertindak sehingga layak ia disebut pemimpin.
Buku berjudul “Pemimpin Langit” ini secara lugas dan gamblang memberitahukan kepada kita gambaran apakah seseorang itu layak dan pantas untuk mengemban amanah kepemimpinan. Penulis ingin para pembaca memahami sifat dan karakter demikian pula apa yang dikerjakan para pemimpin dalam Islam sehingga bisa tergambar jelas dan mempersiapkannya dari sekarang.
Pemimpin dalam Islam bukan malaikat bahkan bukan Tuhan itu sendiri yang tak tersentuh hukum jika ia bersalah, namun mereka jelas orang pilihan yang hanya fokus pada rida Allah semata saat tampuk kepemimpinan ada di tangan mereka. Jika dibandingkan dengan kondisi pemimpin hari ini, sungguh sebuah tamparan keras, karena akhirnya kita tahu mengapa kesengsaraan rakyat atau umat seolah tiada berujung.
Sistem Demokrasi mempertontonkan kepemimpinan yang buruk, sejak dari kepala negaranya, kabinetnya, parlemennya bahkan para pemimpin partai yang darinya lahir para pemimpin. Mereka tak memiliki kapabilitas, bisa dikatakan hanya memiliki loyalitas dan mental ABS ( Asal Bapak Senang). Dan setelah membaca buku ini, kita akan memperoleh prespektif yang berbeda sehingga kita benar-benar merindukan kehadiran pemimpin yang “turun dari langit”.
Di pasal 1, Empat Macam Pemimpin, penulis menjelaskan tentang nasehat berharga dari Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasehat. Sang Imam mengatakan, “ Sesungguhnya, Umar bin Khattab ra.pernah berkata,”pemimpin itu ada empat macam. Pertama, pemimpin yang dirinya dan oembantu-pembantunya memiliki jiwa yang kuat seperti halnya para mujahid yang berjuang di jalan Allah, sehingga Tangan Allah terbentang untuk memberikan rahmat kepadanya. Kedua, pemimpin yang lemah jiwanya sehingga dikendalikan oleh pembantu-pembantunya. Sesungguhnya, pemimpin seperti ini sangat dekat dengan kehancuran, kecuali Allah SWT. Memberinya Rahmat. Ketiga, pemimpin yang pembantu-pembantunya lemah, sehingga dia mengendalikan mereka, maka pemimpin seperti ini akan dimasukkan ke dalam neraka Huthamah, sebagaimana yang disabdakan Rasûlullâh Saw., “Berilah kabar gembira kepada pemimpin Huthamah, karena dia sendirilah yang akan binasa”. Keempat, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya saling berebut pengaruh, sehingga mereka semua jatuh dalam kebinasaan.
Imam al-Auza’iy berturut lagi, “ Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kesulitan yang paling besar adalah menegakkan hak Allah dan kemuliaan paling tinggi di sisi Allah adalah takwa. Barangsiapa meminta kemuliaan dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat dan memuliakannya. Sebaliknya, barangsiapa mencari kemuliaan dengan bermaksiat kepada-Nya, Allah akan menghinakan dan merendahkannya. Inilah nasehat untukmu, semoga keselamatan tetap bersamamu.” (Imam al-Ghazali, Al-Qur’an Ihya’, juz 7, hal.77).
Buku ini memuat 34 pasal dan yang menurut saya paling menyentuh ada di pasal 25, “ Tetap Bersama Orang yang Lemah”. Di dalam pasal ini, penulis, ustaz Syamsuddin Ramadlan An Nawiy, menceritakan bagaimana Rasûlullâh dihina oleh para pembesar Quraisy saat melihat beliau duduk bersama para sahabat yang lemah dan fakir, di antaranya adalah Salfan Al-Farisi Ra. Mereka mengenakan jubah yang kasar, Kumal, dan berbau keringat.
Para pembesar Quraisy itu ingin berbincang dengan Rasulullah tapi merasa terganggu dengan para sahabat lemah dan fakir itu, mereka meminta Rasul untuk mengusir para sahabat, dengan iming-iming jika Rasul mengikuti permintaan mereka pasti akan ada yang akan masuk Islam lebih banyak, akibat pengaruh ketokohan para pembesar Quraisy tersebut.
Mendengar permintaan mereka, dan begitu besar hasrat Rasul untuk mengislamkan para pembesar Quraisy itu, maka beliau berfikir untuk mengiyakan saja apa yang diminta oleh pembesar Quraisy tersebut. Namun Allah SWT menegur sikap Rasul dengan menurunkan firmanNya, “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (TQS al-Kahfi:28).
Setelah turunnya ayat ini, maka Rasul Saw. Segera mencari sahabatnya. Tatkala beliau menemukan mereka maka beliau segera duduk bersama mereka dan bersabda, “ Segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan umatku orang-orang yang Allah memerintahkan aku untuk selalu bersabar bersama dengan mereka”. Cukuplah bagi beliau orang-orang yang bertakwa dan iklash sebagai penolong dan pembantunya.
Satu pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa di atas, bahwa seorang pemimpin tidak boleh mengabaikan atau meremehkan keberadaan orang-orang lemah yang dekat dengan Allah SWT. Pasalnya, melalui merekalah Allah SWT akan menurunkan pertolongan dan kemenangan. Hal ini jika kita perbandingan dengan hari ini sangatlah terlihat bahwa kepala negara begitu memperhatikan para pejabatnya, kabinetnya, orang-orang partai yang berkoalisi dengan partainya. Sementara suara rakyat tak pernah didengar. Padahal suara rakyat yang terjepit, menderita, penuh harap akan keadilan dan kehidupan yang lebih baik bisa jadi menjadi jalan diturunkannya rahmat atau bahkan azab Allah, nauzubillah.
Buku ini jelas memberikan kita wawasan lebih luas tentang bagaimana pemimpin yang seharusnya kita pilih dan yang akan mengurusi semua urusan kita dunia akhirat. Wallahualam bissawab.
Pemimpin Langit
Kitab Induk Para Pemimpin Hebat
Viii+152 halaman
Cetakan I, Agustus 2023
Penulis:
Syamsuddin Ramadhan An Nawiy
Editor:
Amir Ma’ruf
Setting & Layout:
Irfan Fahmi
Desain Cover :
Dede Suryana
Penerbit:
MRM



Komentar
Posting Komentar